Untuk Puan.
Untuk Puan yang rapuh, namun tak henti – hentinya mengaku tangguh.
Pertama, kekasihmu tak benar – benar mencintaimu. Percayalah. Kau harus telan kenyataan ini seperti ketika meminum obat pahit yang enggan sekali kamu konsumsi; Kamu harus menutup hidung, cepat – cepat menelannya, meneguk minuman setelahnya untuk menghindari terhenti ditengah jalan dan menimbul rasa pahit. Kekasihmu tidak mencintaimu dengan baik. Sebagaimana kamu mencintai dia, pernahkah kamu melampiaskan marah hingga melayangkan tamparan seperti yang sudah ia lakukan padamu? Pernahkah kamu memuaskan hasrat didadamu dengan memaki – makinya, mengatakan betapa bodohnya dia, betapa jeleknya dia, betapa tidak berharganya dia seperti yang sudah ia teriakkan ditelingamu?
Kamu mencintainya dengan begitu apik. Kamu berikan semua hal yang kamu punya, bahkan duniamu. Kamu sudah mencintainya dengan begitu jerih. Bahkan sesuatu yang tak ia pikirkan sekalipun, kamu mampu memberikan kepadanya sebagai sesuatu yang dapat menyenangkannya. Tak jarang kamu mengalah demi menghindari amarah. Kamu mengaku salah demi tak bertengkar panjang dengannya. Kamu rela dituduh apapun, supaya ia mau memaafkanmu dan tetap menganggapmu sebagai kekasihnya. Kamu bersimpuh, datang menghadapnya dan memintanya tetap bersamamu saat kamu tak sengaja mendapatinya mendua. Kamu bersikukuh mencintainya, saat ia tak benar – benar mencintaimu.
Kedua, kamu sangat istimewa. Kamu tahu itu, kan? Kamu terlalu berharga untuk bersanding dengan kekasihmu yang bahkan tak tahu bagaimana cara memperlakukanmu dengan hangat. Kamu terlalu cantik untuk berdampingan dengan seseorang yang tidak mampu memandangmu dengan benar. Sungguh, Puan, percayalah bahwa ia tidak pantas untuk mendapatkanmu.
Aku mencintainya. Hanya itu satu – satunya alasan mengapa aku bertahan.
Tak jarang aku mendengar hal itu sebagai alasan. Seolah – olah dalam membangun sebuah hubungan, cinta saja cukup sebagai syarat mutlak untuk melangkah bersama ke masa depan. Mungkin “agak cukup” jika cinta itu tumbuh dari dua hati. Sedang cinta itu, kenyataannya, hanya datang dari seorang saja. bagaimana rumah itu tidak akan ambruk disuatu hari nanti?
Jangan membual, Puan. Cintamu tidak bisa memberi kepuasan yang kekasihmu butuhkan. Ia butuh dari sekedar cinta dari kekasihnya yang mudah sekali dikelabuhi dengan ucapan maaf yang disertai wajah memelas. Ia tidak benar – benar mencintaimu. Ia tidak benar – benar membutuhkanmu. Bukankah jauh didalam angan – anganmu, kamu terbersit pikiran “mungkin ia akan membuangku nanti, walau entah kapan”?
Sebelum perjalanan derita ini kamu lanjutkan lebih jauh, ada baiknya kamu lekas berhenti. Sekarang. Sekarang juga. Perlindungan Puan dinegara ini sudah berkembang jauh lebih baik. Kamu tak perlu takut ancaman. Kamu tak perlu bimbang untuk memutuskan. Sebaik – baiknya langkah, adalah meninggalkan ia yang tak dapat menghargaimu sebagai cinta yang tulus. Tak perlu memungkiri bahwa kita membutuhkan cinta yang sama imbangnya, kita menginginkan cinta yang sama indahnya. Cinta yang mampu membawa kita untuk hidup dengan layak dan jauh lebih bahagia daripada hari kemarin. Cinta yang mampu memperingatkanmu dengan suara yang tenang, bukan yang nyaring, atau lebih parahnya disertai hantaman, pukulan atau siksaan yang lain. Cinta yang mampu kamu ajak berdiskusi, atau setidaknya memaklumi keputusan – keputusan dan batasan – batasan diri, bukan yang melanggar privasi, atau lebih buruknya melampaui batas demi sengaja melukaimu, atau mengancammu untuk kepentingan dirinya sendiri.
Cinta mungkin rumit, Puan. Ada benarnya jika cinta tak selalu tentang apa yang kita tentukan. Kita punya runtut ciri – ciri seperti apa seseorang yang ingin kita sanding. Tapi, kenyataannya, kita dibuat jatuh cinta dengan seseorang yang tak sekalipun mirip dengan salah satu syarat yang kita ajukan. Tak apa. Kadang takdir memang suka sekali mengajak bercanda.
Tapi, bukan berarti kamu harus terus menetap kalau sesuatu terasa tak beres. Kamu boleh pergi. Kamu boleh menyudahi. Jangan sungkan untuk pamit undur diri. Jangan memaksakan hanya karena kamu mencintainya. Kamu tidak tahu, diluar sana, seseorang sudah disiapkan takdir sebagai hadiah atas sabarmu. Seseorang menantikanmu.
Kamu mungkin akan menyesalinya dikemudian hari, jika kamu masih bersikeras menggenggam tangan kekasihmu yang bahkan tak merasa senang dipertahankan olehmu. Ia membutuhkanmu karena kamu mudah memaafkannya. Ia menginginkanmu karena baginya kamu tak sulit untuk ditipu. Ia tetap bersamamu karena kamu memenuhi segala kebutuhannya yang tak dapat dipenuhi oleh orang lain. Atau bahkan kamu lebih mementingkan dirinya dibandingkan dirimu sendiri? Jika benar, maka dengan segala harap yang kupunya, berhentilah Puan...
Mengapa waktu itu aku tetap kukuh mencintainya? Mengapa waktu itu aku tetap mencintainya? Mengapa tak dari dulu aku melepaskannya? Mengapa tak sejak dulu, aku mendorongnya pergi dari kehidupanku?
Kelak, jangan sampai kamu berpikir begitu. Pikirkan masa depanmu sendiri. Pikirkan dirimu sendiri. Hidup ini terlalu sia – sia untuk merawat orang lain yang mungkin dalam kehidupannya, membahagiakanmu bukan salah satu tujuannya.
Kamu cantik, Puan. Kamu cantik dan kamu istimewa. Aku ingin kamu bahagia. Berbahagialah. Entah tanpa atau dengan pasangan, berbahagialah. kamu harus dan pantas untuk bahagia.
Kamu harus, b a h a g i a. :)
tertanda aku, yang pernah menyaksikanmu terisak dilukai mantan kekasihmu.
Pertama, kekasihmu tak benar – benar mencintaimu. Percayalah. Kau harus telan kenyataan ini seperti ketika meminum obat pahit yang enggan sekali kamu konsumsi; Kamu harus menutup hidung, cepat – cepat menelannya, meneguk minuman setelahnya untuk menghindari terhenti ditengah jalan dan menimbul rasa pahit. Kekasihmu tidak mencintaimu dengan baik. Sebagaimana kamu mencintai dia, pernahkah kamu melampiaskan marah hingga melayangkan tamparan seperti yang sudah ia lakukan padamu? Pernahkah kamu memuaskan hasrat didadamu dengan memaki – makinya, mengatakan betapa bodohnya dia, betapa jeleknya dia, betapa tidak berharganya dia seperti yang sudah ia teriakkan ditelingamu?
Kamu mencintainya dengan begitu apik. Kamu berikan semua hal yang kamu punya, bahkan duniamu. Kamu sudah mencintainya dengan begitu jerih. Bahkan sesuatu yang tak ia pikirkan sekalipun, kamu mampu memberikan kepadanya sebagai sesuatu yang dapat menyenangkannya. Tak jarang kamu mengalah demi menghindari amarah. Kamu mengaku salah demi tak bertengkar panjang dengannya. Kamu rela dituduh apapun, supaya ia mau memaafkanmu dan tetap menganggapmu sebagai kekasihnya. Kamu bersimpuh, datang menghadapnya dan memintanya tetap bersamamu saat kamu tak sengaja mendapatinya mendua. Kamu bersikukuh mencintainya, saat ia tak benar – benar mencintaimu.
Kedua, kamu sangat istimewa. Kamu tahu itu, kan? Kamu terlalu berharga untuk bersanding dengan kekasihmu yang bahkan tak tahu bagaimana cara memperlakukanmu dengan hangat. Kamu terlalu cantik untuk berdampingan dengan seseorang yang tidak mampu memandangmu dengan benar. Sungguh, Puan, percayalah bahwa ia tidak pantas untuk mendapatkanmu.
Aku mencintainya. Hanya itu satu – satunya alasan mengapa aku bertahan.
Tak jarang aku mendengar hal itu sebagai alasan. Seolah – olah dalam membangun sebuah hubungan, cinta saja cukup sebagai syarat mutlak untuk melangkah bersama ke masa depan. Mungkin “agak cukup” jika cinta itu tumbuh dari dua hati. Sedang cinta itu, kenyataannya, hanya datang dari seorang saja. bagaimana rumah itu tidak akan ambruk disuatu hari nanti?
Jangan membual, Puan. Cintamu tidak bisa memberi kepuasan yang kekasihmu butuhkan. Ia butuh dari sekedar cinta dari kekasihnya yang mudah sekali dikelabuhi dengan ucapan maaf yang disertai wajah memelas. Ia tidak benar – benar mencintaimu. Ia tidak benar – benar membutuhkanmu. Bukankah jauh didalam angan – anganmu, kamu terbersit pikiran “mungkin ia akan membuangku nanti, walau entah kapan”?
Sebelum perjalanan derita ini kamu lanjutkan lebih jauh, ada baiknya kamu lekas berhenti. Sekarang. Sekarang juga. Perlindungan Puan dinegara ini sudah berkembang jauh lebih baik. Kamu tak perlu takut ancaman. Kamu tak perlu bimbang untuk memutuskan. Sebaik – baiknya langkah, adalah meninggalkan ia yang tak dapat menghargaimu sebagai cinta yang tulus. Tak perlu memungkiri bahwa kita membutuhkan cinta yang sama imbangnya, kita menginginkan cinta yang sama indahnya. Cinta yang mampu membawa kita untuk hidup dengan layak dan jauh lebih bahagia daripada hari kemarin. Cinta yang mampu memperingatkanmu dengan suara yang tenang, bukan yang nyaring, atau lebih parahnya disertai hantaman, pukulan atau siksaan yang lain. Cinta yang mampu kamu ajak berdiskusi, atau setidaknya memaklumi keputusan – keputusan dan batasan – batasan diri, bukan yang melanggar privasi, atau lebih buruknya melampaui batas demi sengaja melukaimu, atau mengancammu untuk kepentingan dirinya sendiri.
Cinta mungkin rumit, Puan. Ada benarnya jika cinta tak selalu tentang apa yang kita tentukan. Kita punya runtut ciri – ciri seperti apa seseorang yang ingin kita sanding. Tapi, kenyataannya, kita dibuat jatuh cinta dengan seseorang yang tak sekalipun mirip dengan salah satu syarat yang kita ajukan. Tak apa. Kadang takdir memang suka sekali mengajak bercanda.
Tapi, bukan berarti kamu harus terus menetap kalau sesuatu terasa tak beres. Kamu boleh pergi. Kamu boleh menyudahi. Jangan sungkan untuk pamit undur diri. Jangan memaksakan hanya karena kamu mencintainya. Kamu tidak tahu, diluar sana, seseorang sudah disiapkan takdir sebagai hadiah atas sabarmu. Seseorang menantikanmu.
Kamu mungkin akan menyesalinya dikemudian hari, jika kamu masih bersikeras menggenggam tangan kekasihmu yang bahkan tak merasa senang dipertahankan olehmu. Ia membutuhkanmu karena kamu mudah memaafkannya. Ia menginginkanmu karena baginya kamu tak sulit untuk ditipu. Ia tetap bersamamu karena kamu memenuhi segala kebutuhannya yang tak dapat dipenuhi oleh orang lain. Atau bahkan kamu lebih mementingkan dirinya dibandingkan dirimu sendiri? Jika benar, maka dengan segala harap yang kupunya, berhentilah Puan...
Mengapa waktu itu aku tetap kukuh mencintainya? Mengapa waktu itu aku tetap mencintainya? Mengapa tak dari dulu aku melepaskannya? Mengapa tak sejak dulu, aku mendorongnya pergi dari kehidupanku?
Kelak, jangan sampai kamu berpikir begitu. Pikirkan masa depanmu sendiri. Pikirkan dirimu sendiri. Hidup ini terlalu sia – sia untuk merawat orang lain yang mungkin dalam kehidupannya, membahagiakanmu bukan salah satu tujuannya.
Kamu cantik, Puan. Kamu cantik dan kamu istimewa. Aku ingin kamu bahagia. Berbahagialah. Entah tanpa atau dengan pasangan, berbahagialah. kamu harus dan pantas untuk bahagia.
Kamu harus, b a h a g i a. :)
tertanda aku, yang pernah menyaksikanmu terisak dilukai mantan kekasihmu.
Komentar
Posting Komentar